Seorang teman yang semampai sekali, kekasihnya berbadan
besar bahkan teramat besar. Semua orang bertanya, kenapa mau sama dia? Jawabnya,
karena itulah kelebihanya dan aku menerimanya.
Seorang teman pintar sekali, kekasihnya duda anak satu. Semua
orang bertanya, kenapa mau sama dia? Jawabnya, toh semua yang kau punya juga
titipan dan aku menerimanya.
Teman lainnya seorang yang cantik sekali, kekasihnya tunarungu
dan tunawicara. Semua orang bertanya, kenapa mau sama dia? Jawabnya, karena
kita semua pun tak sempurna, aku tak mencari kesempurnaan dan aku menerimanya.
Masih banyak contoh lainnya.
Banyak belajar dari mereka semakin membuat merasa bodoh. Mereka
punya pilihan, dan setiap pilihan punya jawaban, jika tidak memiliki jawaban
coba dicek lagi, apa pilihan matang? Aku memang tidak semampai, tidak pintar,
apalagi cantik, tidak. Cuma biasa saja. Tapi aku beralasan dan punya jawaban
atas pilihan. Aku menerimanya
malem ini banyak detlen tugas, tapi gbisa ngerjain, lagi kecewa guenya.
gue punya seseorang, seseorang itu memiliki gue juga
sudah lama sekali berjalan, berdampingan, beriringan, kejar2an, berbeda arah, bertolak belakang, sering sekali. tapi mungkin itu juga yang membuat kita meneruskan perjalanan.
bagaimana mungkin gue gak menaruh kepercayaan padanya?
seseorang yang gue percaya, orang kepercayaan.
perjalanan kita fluktuatif, aneh sekali. gue pun gapaham
rasa-rasa simpangsiur takut kesasar pasti selalu ada, atau bahkan orang ituyang sengaja ingin membuat kita kesasar, mungkin juga ada. iya ada gue tau jelas.
terkadang mungkin kenyamanan tidak terfokus satu titik hanya dari gue, bahkan hanya dari seseorang itu.
tapi yang gue tau, gimana caranya meyakinkan diri bahwa orang yang disampinglah yang selama ini menyamankan. tidak tergiur kenyamanan orang yang ditawarkan orang-orang bermaksud aneh.
dalam hal ini, gue banyak bertanya, hal ini-itu. mungkin seseorang kesal karna banyaknya pertanyaan.
tapi itu bukanlah suatu keraguan, gue hanya mencari kepastian atas kesimpangsiuran ini, menjari kejelasan atas kerikil yang mengganjal di hati, dan kabut yang mengotori pikiran, itu saja.
tapi gue selalu dipandang negatif, dianggap berprasangka, menuduh.
orang itu memberitahu banyak hal pada seseorang,
bahkan tentang kemarahan gue yang tidak pernah ada sebelumnya, benar-benar tak pernah ada.
jadi jangan salahkan kalo sekarang gue benar-benar menyimpan kemarahan pada orang itu
orang itu memulainya, sekarang gue benci, benar-benar.
hari ini, maafkan Ya Tuhan
aku membawa nama-Mu, kalau tidak, bagaimana seseorang bisa mempercayai aku?
sudah berbaga cara gue lakuin, jalan terakhir ya dengan itu
baru seseorang mempercayai gue.
sesulit itukah gue dipercaya?
hari ini, bukannya gue mencari pembelaan. tapi gue denger sendiri kok dari seseorang.
bahwa memang pernah seseorang lebih mempercayai orangitu, daripada gue yang disampingnya.
iya, gue selalu disampingnya, dijalan ini.
tapi tak lagi dipercaya.
hari ini, ada pengakuan bahwa orang itu memang punya maksud tertentu pada seseorang.
seseorang sendiri yang ngasih tau gue.
terjawab kan semua pertanyaan gue yang seseorang bilang pikiran kotor dan prasangka tadi?
jadi, sebenarnya siapa yang berprasangka?
gue, gak lagi dipercaya.
kasih tau gue bahwa kecewa adalah sesuatu yang wajar disini.
tidak dipercya oleh orang kepercayaan..
lagi mikir aja,
apa gue selama ini udah bener? memahami dan memaknai setiap kejadian, bener menafsirkan kode-kode, bener bertindak dan ngambil keputusan, bener-bener.
bukan sok dewasa (emang udah calon 21 te -_-) cuman, memang mau gak mau gue harus banget berpikir kek gitu, sebelum masa berpikir gue abis, dan diganti sama masa action. kek aktris gituu..
well, gue anak sulung punya adek dua masih unyu-unyu, yang satu SMP yang satu seupil masih kelas 2 SD, dan semuanya cewek. bukan beban sebenernya, tapi lebih ke tanggung jawab lahir-batin buat ngeliat mereka punya masa depan yang jauh lebih baik dari sekarang, lebih dari gue, lebih dari emak-babeh.
cukup gue aja yang lagi sekolah jajanya susah, mau kuliah bingung kemana, nyari beasiswa sampe modot-molor, kuliah nyari duit sendiri, punya komunitas simpan-pinjam bersama mahasiswa beasiswa lain, cuma ngelus dada liat barang bagus. udah, cukup gue.
cukup juga buat gue untuk ngeliat pasangan cinta harmoni selalu kekal abadi : emak-babeh gue, bu yanti <3 pak yoga, yang selalu bersedia mengucurkan keringatnya buat kebahagiaan anaknya. (ih sediah siah gue T.T) bener nih, terkadang gue ngerasa ketimpangan ini begitu nyata, mungkin orang-orang bisa ngomong usahanya yang kurang. tapi buat gue, udah cukup bahkan berlebih. sekarang giliran gue
di semester 6 ini emang gue belum ngelakuin apa-apa, belum bisa nyekolahin si ide sama de ila, belum bisa beliin rumah, belum bisa ngajak umroh. aduh, tapi someday ya mam, ill make it happen *cipok* just wait with pray and patient ya mama gaul *cipok lagi*
so, how can i make it comes true? ya gue mau gawe atuuh, masa ngadah tangan ke langit berharap hujan tiket umroh?. gue sekolah, gue kuliah, itu buat ngebahagiain mereka. oke kebahagiaan gak diukur dengan materi, tapi, trust me, tanpa itu juga kebahagiaanya bakal sendet-sendetan :')
praktikum persos tadi gue sekelas kesasar nyari kelas wisma pinus, mulai dari gmsk-lh --> fpik --> amarilis -->c4 (ex wisma pinus) --> B1 dekanat fema --> ofac B11 --> ofac b12. fuh, itu jauh tau teuuu?? kehidupan kehidupan.. bukan karena kita punya kaki sok kuat (khususnya buat gue yang jalan sikil), tapi emang gak ada koordinasi aja dari pihak deknat sama pengelola wisma pinus yang ternyata udah gak dipake. tapi bukan soal itu aja sih, wisma pinus yang pasti-pasti aja kita sekelas kaga nyaho dimana men, men semester 6 kita masih nyasar. kesasar tentu bukan sepenuhnya kesalahan kita, cuma emang aja sebelumnya belum pernah ke tempat itu atau belum pernah ada yang orang yang memberi informasi tempat onoh dimana. nyusruh ke wisma pinus, tapi gak pernah ada yang ngasih tau dimanakan tempat itu berada kan poleng. tau tujuan, tapi gak pernah tau jalanya, ya kesasar lah konsekuensinya. (bukan gamau tanya, orang satpamnya aja bingung -_-) hal ini mengingatkan gue pada suatu hal, kalo mau orang mengerti, ya kasihlah dia pengertian. mengharapkan orang mengerti tanpa memberi pengertian, membuat orang tersebut bebas mengembangkan spekulasinya tetang sebah pemahaman. spekulasi itu sadis kan? tapi kata gue, lebih sadis lagi menyalahkan spekulasi orang tapi membiarkan spekulasinya berkembang semaunya. udah gitu aja :)
Sekarang
aku sedang bosan, bosan melihat berita dan mendengar informasi tentang banjir.
Banjir. Kemudian banjir.
Mungkin
sama bosannya, seperti matahari. Matahari pada Bumi.
Hujan
setiap saat, global warming jadi global cooling, matahari juga sedang
pergi jalan-jalan entah kemana akhir-akhir ini. Padahal bumi kedinginan dengan
air yang selalu menyelimuti. Padahal tanaman-tanaman hampir putus asa karena
tak kunjung dapat energi untuk fotosintesis.
Matahari
itu bulatan bersinar yang baik sekali. Tak pernah meminta pamrih atas pancaran
yang setiap saat diberikan pada bumi. Atas setiap panas yang diberikan pada
pakaian-pakaian basah. Atas ribuan energi untuk tanaman berfotosintesis dan
mendistribusikan makanan untuk makhluk lain. Sekali lagi, tak pernah bukan
matahari meminta tumbal atas semua itu?
Namun
bumi terlampau senang atas keberkahan itu. sumber agraria memang untuk
dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kesejahteraan manusia, but its too much honey. Banyak hal yang harus dipertimbangkan dan
dipantau keamanannya sampai semua ini benar-benar berakhir. And happy ending is impossible if you only say : oh i dont know, oh up
to you, oh up to me, ahh.. whatever~
Bisa
saja ini titiknya. Titik dimana bumi menuai ketidaksungguhannya atas apa yang
dijalankan. Terlalu menyepelekan proses, padahal ingin punya hasil yang
sempurna. Setidaknya berusahalah, berusaha menjaga, menjaga agar kondisi
hemeostatis tetap pada titik equilibrium. Meski fluktuasi adalah mutlak, tapi
kembalilah untuk menjaga agar kondisi ini menjadi stabil. Mohon..
Matahari
tidak marah, hanya bosan atas pilihan bumi yang begitu-begitu saja. Bumi sudah
dewasa, bukan lagi waktunya untuk menjadi labil ketika dihadapkan pada pilihan.
Matahari
tidak pergi, hanya bersembunyi di suatu awan dan memantau dari kejauhan
pergerakan bumi, berkembang atau menciut. Percayalah, tak ada niat jahat
matahari untuk tak lagi menyinari bumi, hanya saja.. ayolah bumi, berusahalah
menjadi dewasa atas pelajaran masa lalu. Matahari ingin bumi menunjukkan tanduknya,
menyibakkan kasih sayang, seperti dulu. Seperti dahulu sayang.
Ketika
bumi setidaknya telah menunjukkan itikad baik untuk berubah, untuk kembali
bersinergis dengan matahari dengan tujuan yang sama. Matahari pasti akan
mengembangkan senyumannya untukmu. Kembali memancar tanpa pamrih. Demi bumi.
gaklah males sih gue, tetep aja bgeitu begitu juga ceritanya
i wish something different, but there is nothing, honey
cape enggak, cuma bosen sama skema yang memposisikan gue selalu berada di sudut yang sama
bosen sama sakit yang terus berulang, disitu situ aja, gitu gitu aja dan akhirnya.. gue die -_____-
kalo aja gue tersudut lagi, udah deh T.A.M.A.T lah sudah riwayat gue
gamau dan gak bakal reinkarnasi lagi, jadi kayak gini, lagi
Rabu, 17 Juli 2013
"... Rasakan semua, demikian pinta
sang hati. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika
memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatikum pada dini hari yang
hening. Bening. Apa adanya."
Menahun, ku tunggu kata-kata
Yang merangkum semua
Dan kini ku harap ku dimengerti
Walau sekali saja pelukku
Tiada yang tersembunyi
Tak perlu mengingkari
Rasa sakitmu
Rasa sakitku
Tiada lagi alasan
Inilah kejujuran
Pedih adanya
Namun ini jawabnya
Di dini hari yang sepi
Tetapi apalah arti bersama, berdua
Namun semu semata
Tiada yang terobati
Di dalam peluk ini
Tapi rasakan semua
Sebelum kau kulepas selamanya
Tak juga kupaksakan
Setitik pengertian
Bahwa ini adanya
Cinta yang tak lagi sama
Lepaskanku segenap jiwamu
Tanpa harus ku berdusta
Karena kaulah satu yang kusayang
Dan tak layak kau didera Dan kini ku berharap ku dimengerti
gue tau itu pasangan, dan yang namanya pasangan pasti pengen selalu barengan, *siapa yg mau barengan gue?*
tapi
lain halnya kalo memulai suatu keadaan yang diidamkan, keadaan yang
lamaaa bgt udah diharapkan, yang udah dipamerin ke setiap orang, yang
udah didoain setiap abis solat. ada yang mau mengakhirinya?
sama
seperti hal nya gue, berada di keadaan yang ngawang gatau gimana, di
sisi lain gue ngerasa bahagia dengan interpersonal ini, tapi disisi lain
juga gue tau ini akan berakhir cepat atau lambat. Kepastian yang cuma
retorika itu cuma bikin gue getek, apalagi ditambah sama keputusan yang
sama sekali gak dipunyai, haaah makhluk apa kabbaaarr??
bukannya
gue memaksa untuk itu, tapi meski gak sekarang, sikap seperti itu pasti
harus dipunyai oleh setiap orang, gak terkecuali.Gue juga gak merasa
udah perfect untuk itu, tapi kan gue cewe *alibi*, butuh dibimbing,
dituntun, dipegangin tangannya biar gak lepas, tapi jangan terlalu
keras, gue pengen seiring, bukan digiring...
Dan sampe sekarang gue gak nemu,
Bukan
gak yakin, tapi setelah berkalikalikali dibuktikan dengan sikap yang
sama, gue butuh terapi keyakinan rutin, biar yakin itu bisa paten dan
benar benar membuahkan hasil. Kalo memang semua ini berbuah, kita adalah
pengorbanan, tapi kalo lagilagi terulang hal yang seharusnya gak perlu,
yaaaah siasia lah kita.
Kalo emang gak ada yang bisa
dilakuin intu membuat keabstrakan ini menjadi lebih transparan, mungkin
gue akan nyoba untuk makan lebih banyak suplemen biar bisa bertahan
lebih lama. Tapi, kalo niat aja gak ada alias cuma retorika tanpa aksi,
maaf banget gak ada satu lembaga pun yang berani jamin.Gue kurang demen
seni abstrak,
Okee~~
gue juga tau, gak mungkin ngelawan arus, gak mungkin motor bergerak sendiri tanpa pengendara,
jadi...
silahkan anggap diri sebagai mesin, dan biarkan orang lain memainkannya,
sepertinya harus belajar demokrasi,
Daaaan~~
Gue butuh pengendara, karena gue hidup punya arah
dan tujuan, harus ada yang mengarahkan biar sampai ke tujuan, bukan
mesin yang hanya diisi bensin,
Kesempatan itu selalu ada, tapi kalo terus disiakan.. manggaaaa cari sendiri kesempatanya di kolong tempat tidur
Finnaly~~
lets we finish what we started,
sekarang atau besok sama saja
i give up and move on
doain gue biar gak dibegobegoin lagi sama keputusan sendiri :)
gw anak pertama dari tiga bersodara yang sisanya cewe juga,
entah kenapa ada envy gitu ngeliat orang yang punya kaka, apalagi kaka kandung cowo *ngelap iler*
bukan gamau bersyukur, cuma berimajinasi seperti spongebob pun gak dilarang kan dalam undang-undang.
kayaknya, punya kaka kandung cowo itu enak,
bisa minta jajan, minta beliin bayarin, minta uang bulanan secara rutin,
nyaman,
nyaman kalo lagi jalan pasti dianggap cowoknya, bukan kaka nya. apalagi klo kaka nya ganteng, pede sih gw jalan kmana2
seru,
kalo maen maen dan kita dijalin, ngadu aja ke nyokap. pasti dia dimarahin suruh ngalah sama adeknya
adem,
rumah pasti sering adem karena banyak temen2 cowok kaka gw yang pada maen kerumah *semoga mereka ganteng*
nikmat
nikmat kalo dia udh punya cewe, pasti gw sebagai adeknya dijadikan modus empuk buat katalisator kedekatan ceweknya sama keluarga gw. dan berhubung gw pinter maka gw akan pasang tarif diatas maksimum dengan minta peayana ekstraa #alamat bakso tiap hari
Aku seorang pengamen yang memang benar-benar sudah lelah menyumbangkann suara parau ku di tengah hiruk pikuk panasnya kota.tubuh
kecilku masih terlalu capek untuk
menanggung panasnya matahari.apalagi jika sudah ada satpol pp yang melakukan orepasi di jalanan,kontan kaki mungil tanpa
sandal ngebut untuk menghindari
polisi,ditanganku menggenggam kecrek si penghasil uang receh,tentu saja tak
boleh hilang.setelah berhasil berkelit dan bersembunyi di sudut gang
sampah,badanku rubuh gontai karna lelah,tapi masih bisa senang karna kecrek
masih digenggam.uang receh aku keluarkan dari saku celana,ada 6400 rupiah
saja?setelah seharian teriak-teriak dan dikejar satpol pp?sial..cukup apa?
Ditengah
jalan pulang menuju ‘markas’,aku melihat abang-abang yang tengah memperhatikan
nenek-nenek glamor dengan berbegai macam perhiasan di tubunya.setelah si abang
terus membuntuti sang nenek,si abang merebut dompetnya,merampas
perhiasannya,lalu lari sekuat tenaga.dan..bing!si abang lolos.aku kagum sama si
abang,modal memperhatikan saja bisa dapat uang banyak,tanpa harus teriak-teriak
nyanyi lagu ga jelas.aku benar-benar tertarik menimba ilmu darinya.aku buntuti
saja kemana perginya,ternyata ke tempat persembunyianku tadi.kalo jodoh memang
ga kemana.
Setelah
berfikir keras bagaimana mengungkapkan keinginanku untuk menimba ilmu copet
darinya,akhirnya aku memberanikan diri untuk mendekatinya yang sedang sibuk
menghitung uang,widiiih banyak benerr,aku
tergiur semakin bersemangat.
Setelah
tawar menawar sengit,ternyata si abang menerimaku jadi muridnya,namanya abang
jek.orangnya sangat bijak dan realistis,aku dinasehati menjadi copet yang
baik,diberi banyak pengetahuan tentang copet,caranya,waktunya,sasarannya,strateginya,
alasannya sampai dosanya.katannya mencopet itu untungnya lumayan,dosanya
sedikit sekali walaupun resikonya sangat besar.resikonya kalau tidak
berhati-hati dan bertindak gegabah bisa ketauan masa,dekejar-kejar ,malah
dikeroyokin sampe babak belur lalu diseret ke kantor polisi,didekap d penjara
yang kumuh juga bau.tapi dosa nya sedikit sekali dibandingkan sama para pejabat
sang wakil rakyat yang korupsi.katanya bang jek,pejabat itu orang berpendidikan yang mewakili aspirasi rakyat
untuk memajukan negara,tapi tak sembarang orang bisa jadi pejabat,harus
‘berpendidikan’,sekolah tinggi,gelar banyak,dan punya strategis bagus,bagaimana
mungkin orang seperti bang jek tidak jadi pejabat?aneh..aku mengangguk padahal
tak mengerti (aku berjanji suatu saat akan mengerti),tapi yang aku
tangkap,katanya mereka itu orang-orang berduit,apalagi yang gemar korupsi.katanya
bang jek juga,korupsi itu nyilep duit,duit nya ya duit rakyat,ga cuma 6400
rupiah,tapi bisa dalam hitungan miliar,aku mendadak pusing membayangkan duit
sebanyak itu.
pejabat korupsi
itu katanya enak,setelah makan banyak sekali uang rakyat,mereka tak pernah
dikejar-kejar masa,tak pernah dikeroyok meski sudah terbukti bersalah,dan
polisi pun menangkap mereka baik-baik dan dipenjarakan dengan semua fasilitas
elit.mungkin lebih bagus penjara koruptor daripada rumahku.tak seperti polisi
yang menangkapku ketika sedang mengamen di lampu merah,katanya pengamen
sepertiku mengganggu kenyamanan lalu lintas.aku berpikir,mungkin jika para
pejabat yang ngamen,para polisi tak akan menangkapnya,malah akan memberinya
duit recehan banyak sekali.ahh..aku mau jadi pejabat.
Tapi
aku mau melanjutkan niatanku dulu menjadi copet profesional seperti bang
jek,belajar dulu dari yang kecil-kecilan,sampai aku mahir dan tau tak tik
strategi nya.toh sama-sama saja jadi pengamen ataupun copet,sama-sama beresiko
ditangkap polisi.kalo kata orang mencopet itu dilarang dan haram makanya
ditangkap polisi,tapi walaupun mengamen itu halal, aku tetap dikejar-kejar
polisi,yaa berarti sama saja,yang membedakan hanya penghasilan,copet dapat duit
lebih banyak tanpa teriak-teriak.kata bang jek,ambil yang lebih
menguntungkan,dan karna aku anak pintar yang (ingin) berpendidikan,maka tentu
aku tau mana yang lebih menguntungkan.
Aku
ingin sekolah,aku ingin berpendidikan ,agar kelak aku bisa seperti pak pejabat
yang dapat banyak keuntungan seperti yang dibilang bang jek,yang tanpa resiko
babak belur bisa dapat uang lebih banyak ketimbang mencopet.tekadku sudah bulat,dan aku pasti
bisa menggapainya,toh aku sudah sepemikiran dengan para pejabat,jadi aku memang
pantas menduduki kursi itu,menggantikan para orang pintar berpendidikan yang
mengeruk banyak sekali duit dari rakyat.aku jadi tak sabar..
Terimakasih
bang jek,kau guru terbaikku..
Terimakasih
pak pejabat yang koruptor,kau inspirasi
hidupku..
Buat para
mahasiswa,tenar disini bukan berarti kalo mau lulus harus bikin boyband atau
girlband dulu,terus ikut audisi ajang pencarian bakat,terus mampang di
infotaiment dan akhirnya bisa tenar karna dikenal banyak orang,bukan laah..mau
banget.Tapi sebagaimana kita tau,kalo sang dirjen dikti kementrian pendidikan
dan budaya Djoko Santoso telah memutuskan langkah untuk menetapkan salah satu
langkah wajib menggaet gelar sarjana adalah dengan membuat karya ilmiah yang
harus dimuat di jurnal nasional ataupun internasional.Nah,dengan kata lain kan
minimal nama kita mampang di jurnal nasional,dan sedikit banyak orang-orang
melihat jurnal tersebut yang beratasnamakan kita yang terukir indah,itpun kalo
mereka merhatiin sih.Kan kalo dikenal banyak orang itu tenar,jadi ga salah
salah banget kan kalo saya bilang mau sarjana itu harus tenar dulu?? (please
say : yes!)
Dirjen Dikti Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, Djoko Santoso, 27 Januari 2012 telah meluncurkan Surat Edaran
(SE) Nomor: 152/E/T/2012, tentang Publikasi Karya Ilmiah. Tiga poin utama dalam
SE tersebut antara lain: (1) untuk lulus Program Sarjana harus menghasilkan
makalah yang terbit pada jurnal ilmiah; (2) untuk lulus Program Magister harus
telah menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah nasional, diutamakan
yang terakreditasi Dikti; dan (3) untuk lulus Program Doktor harus telah
menghasilkan makalah yang diterima untuk terbit pada jurnal internasional.
Kebijakan tersebut diberlakukan terhitung mulai kelulusan setelah Agustus 2012. Sebagaimana yang kita keahui juga
kalo setiap keputusan pasti punya sisi positif dan negatif nya,gitu juga dengan
keputusan berani bapak dirjen tentang syarat wajib kelulusan
ini.Positifnya,bukankan tujuan penelitian di perguruan tinggi itu adalah proses
pengembangan ilmu dan ujung-ujungnya juga untuk kesejahteraan rakyat kan?jadi
memang sewajarnya harus ada publikasi yang baik ke masyarakat agar masyarakat
tau tentang penelitianya tersebut supaya tidak terkesan ‘mubah’,karna tidak
semua lapisan masyarakat mengetahui tentang apa yang sedang diteliti oleh para
mahasiswa.Selain itu menurut sumber yang saya baca,meluncurkan karya ilmiah di
jurnal nasional juga dapat menekan angka klaim hak cipta,bisa mempercepat
perkembangan ilmu pengetahuan,mencegah plagiarism karna tidak mungkin suatu
jurnal menerbitkan suatu karya ilmiah yang sama dan juga membangun komunikasi
ilmiah antar mahasiswa ataupun antar para pemuja ilmu pengetahuan. Tapi bagaikan uang logam yang satu
sisinya adalah positif,maka satu sisi lainya yang tidak bisa dpisahkan adalah
sisi negatif.Banyak yang menilai keputusan dikti tersebut belum memiliki
kesiapan yang matang jika disandingkan dengan keadaan pendidikan Indonesia saat
ini. "Apabila kebijakan yang baik tidak didukung sumber daya yang
ada, maka kebijakan tersebut prematur. Dan hasilnya pun sia-sia," kata salah
seorang politisi FPKS, yang juga anggota Komisi X DPR RI Rohmani.Apabila
sebuah kebijakan tidak didukung kesiapan masyarakat, maka yang terjadi adalah
penyimpangan, dan hal ini yang seharusnya dipikirkan oleh Dikti. Khawatirnya akan
banyak bermunculan jurnal yang tidak memenuhi standar, dan pada saat yang sama
akan menjamur jasa penulisan jurnal.
Sebenernya ini dibuat buat menuhin salahsatu tugas sih,tapi lebih seru dibikin buat share ternyata,sekali menyelam minum air laahh..tugas selsai dan hati pun tercurahkan.
Maaf maaf aja kalo tulisannya kurang
ilmiah banget,soalnya saya lebih suka nulis apa yang saya pengen saya
obrolin,makanya kurang baku.Dan juga karna saya ngedadak ngebut-ngebut
bikinya,jadi mungkin masih rada semerawut dan berantakan sana sini,jadi..mohon
koreksinyaaaJ