Senin, 12 Maret 2012

Aku ingin jadi pejabat !


Indonesia negara yang unik kawan,

Aku seorang pengamen yang memang benar-benar sudah lelah menyumbangkann suara parau ku di tengah hiruk pikuk panasnya kota.tubuh kecilku  masih terlalu capek untuk menanggung panasnya matahari.apalagi jika sudah ada satpol pp yang  melakukan orepasi  di jalanan,kontan kaki mungil tanpa sandal  ngebut untuk menghindari polisi,ditanganku menggenggam kecrek si penghasil uang receh,tentu saja tak boleh hilang.setelah berhasil berkelit dan bersembunyi di sudut gang sampah,badanku rubuh gontai karna lelah,tapi masih bisa senang karna kecrek masih digenggam.uang receh  aku  keluarkan dari saku celana,ada 6400 rupiah saja?setelah seharian teriak-teriak dan dikejar satpol pp?sial..cukup apa?
Ditengah jalan pulang menuju ‘markas’,aku melihat abang-abang yang tengah memperhatikan nenek-nenek glamor dengan berbegai macam perhiasan di tubunya.setelah si abang terus membuntuti sang nenek,si abang merebut dompetnya,merampas perhiasannya,lalu lari sekuat tenaga.dan..bing!si abang lolos.aku kagum sama si abang,modal memperhatikan saja bisa dapat uang banyak,tanpa harus teriak-teriak nyanyi lagu ga jelas.aku benar-benar tertarik menimba ilmu darinya.aku buntuti saja kemana perginya,ternyata ke tempat persembunyianku tadi.kalo jodoh memang ga kemana.
Setelah berfikir keras bagaimana mengungkapkan keinginanku untuk menimba ilmu copet darinya,akhirnya aku memberanikan diri untuk mendekatinya yang sedang sibuk menghitung uang,widiiih banyak benerr,aku tergiur semakin bersemangat.
Setelah tawar menawar sengit,ternyata si abang menerimaku jadi muridnya,namanya abang jek.orangnya sangat bijak dan realistis,aku dinasehati menjadi copet yang baik,diberi banyak pengetahuan tentang copet,caranya,waktunya,sasarannya,strateginya, alasannya sampai dosanya.katannya mencopet itu untungnya lumayan,dosanya sedikit sekali walaupun resikonya sangat besar.resikonya kalau tidak berhati-hati dan bertindak gegabah bisa ketauan masa,dekejar-kejar ,malah dikeroyokin sampe babak belur lalu diseret ke kantor polisi,didekap d penjara yang kumuh juga bau.tapi dosa nya sedikit sekali dibandingkan sama para pejabat sang wakil rakyat yang korupsi.katanya bang jek,pejabat itu orang  berpendidikan yang mewakili aspirasi rakyat untuk memajukan negara,tapi tak sembarang orang bisa jadi pejabat,harus ‘berpendidikan’,sekolah tinggi,gelar banyak,dan punya strategis bagus,bagaimana mungkin orang seperti bang jek tidak jadi pejabat?aneh..aku mengangguk padahal tak mengerti (aku berjanji suatu saat akan mengerti),tapi yang aku tangkap,katanya mereka itu orang-orang berduit,apalagi yang gemar korupsi.katanya bang jek juga,korupsi itu nyilep duit,duit nya ya duit rakyat,ga cuma 6400 rupiah,tapi bisa dalam hitungan miliar,aku mendadak pusing membayangkan duit sebanyak itu.
pejabat korupsi itu katanya enak,setelah makan banyak sekali uang rakyat,mereka tak pernah dikejar-kejar masa,tak pernah dikeroyok meski sudah terbukti bersalah,dan polisi pun menangkap mereka baik-baik dan dipenjarakan dengan semua fasilitas elit.mungkin lebih bagus penjara koruptor daripada rumahku.tak seperti polisi yang menangkapku ketika sedang mengamen di lampu merah,katanya pengamen sepertiku mengganggu kenyamanan lalu lintas.aku berpikir,mungkin jika para pejabat yang ngamen,para polisi tak akan menangkapnya,malah akan memberinya duit recehan banyak sekali.ahh..aku mau jadi pejabat.
Tapi aku mau melanjutkan niatanku dulu menjadi copet profesional seperti bang jek,belajar dulu dari yang kecil-kecilan,sampai aku mahir dan tau tak tik strategi nya.toh sama-sama saja jadi pengamen ataupun copet,sama-sama beresiko ditangkap polisi.kalo kata orang mencopet itu dilarang dan haram makanya ditangkap polisi,tapi walaupun mengamen itu halal, aku tetap dikejar-kejar polisi,yaa berarti sama saja,yang membedakan hanya penghasilan,copet dapat duit lebih banyak tanpa teriak-teriak.kata bang jek,ambil yang lebih menguntungkan,dan karna aku anak pintar yang (ingin) berpendidikan,maka tentu aku tau mana yang lebih menguntungkan.
Aku ingin sekolah,aku ingin berpendidikan ,agar kelak aku bisa seperti pak pejabat yang dapat banyak keuntungan seperti yang dibilang bang jek,yang tanpa resiko babak belur bisa dapat uang lebih banyak ketimbang  mencopet.tekadku sudah bulat,dan aku pasti bisa menggapainya,toh aku sudah sepemikiran dengan para pejabat,jadi aku memang pantas menduduki kursi itu,menggantikan para orang pintar berpendidikan yang mengeruk banyak sekali duit dari rakyat.aku jadi tak sabar..
Terimakasih bang jek,kau guru terbaikku..
Terimakasih pak pejabat yang koruptor,kau inspirasi  hidupku..

Rabu, 29 Februari 2012

mau sarjana?Tenar dulu,


Buat para mahasiswa,tenar disini bukan berarti kalo mau lulus harus bikin boyband atau girlband dulu,terus ikut audisi ajang pencarian bakat,terus mampang di infotaiment dan akhirnya bisa tenar karna dikenal banyak orang,bukan laah..mau banget.Tapi sebagaimana kita tau,kalo sang dirjen dikti kementrian pendidikan dan budaya Djoko Santoso telah memutuskan langkah untuk menetapkan salah satu langkah wajib menggaet gelar sarjana adalah dengan membuat karya ilmiah yang harus dimuat di jurnal nasional ataupun internasional.Nah,dengan kata lain kan minimal nama kita mampang di jurnal nasional,dan sedikit banyak orang-orang melihat jurnal tersebut yang beratasnamakan kita yang terukir indah,itpun kalo mereka merhatiin sih.Kan kalo dikenal banyak orang itu tenar,jadi ga salah salah banget kan kalo saya bilang mau sarjana itu harus tenar dulu?? (please say : yes!)
Dirjen Dikti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Djoko Santoso, 27 Januari 2012 telah meluncurkan Surat Edaran (SE) Nomor: 152/E/T/2012, tentang Publikasi Karya Ilmiah. Tiga poin utama dalam SE tersebut antara lain: (1) untuk lulus Program Sarjana harus menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah; (2) untuk lulus Program Magister harus telah menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah nasional, diutamakan yang terakreditasi Dikti; dan (3) untuk lulus Program Doktor harus telah menghasilkan makalah yang diterima untuk terbit pada jurnal internasional. Kebijakan tersebut diberlakukan terhitung mulai kelulusan setelah Agustus 2012.
      Sebagaimana yang kita keahui juga kalo setiap keputusan pasti punya sisi positif dan negatif nya,gitu juga dengan keputusan berani bapak dirjen tentang syarat wajib kelulusan ini.Positifnya,bukankan tujuan penelitian di perguruan tinggi itu adalah proses pengembangan ilmu dan ujung-ujungnya juga untuk kesejahteraan rakyat kan?jadi memang sewajarnya harus ada publikasi yang baik ke masyarakat agar masyarakat tau tentang penelitianya tersebut supaya tidak terkesan ‘mubah’,karna tidak semua lapisan masyarakat mengetahui tentang apa yang sedang diteliti oleh para mahasiswa.Selain itu menurut sumber yang saya baca,meluncurkan karya ilmiah di jurnal nasional juga dapat menekan angka klaim hak cipta,bisa mempercepat perkembangan ilmu pengetahuan,mencegah plagiarism karna tidak mungkin suatu jurnal menerbitkan suatu karya ilmiah yang sama dan juga membangun komunikasi ilmiah antar mahasiswa ataupun antar para pemuja ilmu pengetahuan.
      Tapi bagaikan uang logam yang satu sisinya adalah positif,maka satu sisi lainya yang tidak bisa dpisahkan adalah sisi negatif.Banyak yang menilai keputusan dikti tersebut belum memiliki kesiapan yang matang jika disandingkan dengan keadaan pendidikan Indonesia saat ini.
"Apabila kebijakan yang baik tidak didukung sumber daya yang ada, maka kebijakan tersebut prematur. Dan hasilnya pun sia-sia," kata salah seorang politisi FPKS, yang juga anggota Komisi X DPR RI Rohmani. Apabila sebuah kebijakan tidak didukung kesiapan masyarakat, maka yang terjadi adalah penyimpangan, dan hal ini yang seharusnya dipikirkan oleh Dikti. Khawatirnya akan banyak bermunculan jurnal yang tidak memenuhi standar, dan pada saat yang sama akan menjamur jasa penulisan jurnal.

PROLOG



                Sebenernya ini dibuat buat menuhin salahsatu tugas sih,tapi lebih seru dibikin buat share  ternyata,sekali menyelam minum air laahh..tugas selsai dan hati pun tercurahkan.
      Maaf maaf aja kalo tulisannya kurang ilmiah banget,soalnya saya lebih suka nulis apa yang saya pengen saya obrolin,makanya kurang baku.Dan juga karna saya ngedadak ngebut-ngebut bikinya,jadi mungkin masih rada semerawut dan berantakan sana sini,jadi..mohon koreksinyaaa
J