Kamis, 06 Februari 2014

Matahari Pada Bumi



Sekarang aku sedang bosan, bosan melihat berita dan mendengar informasi tentang banjir. Banjir. Kemudian banjir.

Mungkin sama bosannya, seperti matahari. Matahari pada Bumi.

Hujan setiap saat, global warming jadi global cooling, matahari juga sedang pergi jalan-jalan entah kemana akhir-akhir ini. Padahal bumi kedinginan dengan air yang selalu menyelimuti. Padahal tanaman-tanaman hampir putus asa karena tak kunjung dapat energi untuk fotosintesis.

Matahari itu bulatan bersinar yang baik sekali. Tak pernah meminta pamrih atas pancaran yang setiap saat diberikan pada bumi. Atas setiap panas yang diberikan pada pakaian-pakaian basah. Atas ribuan energi untuk tanaman berfotosintesis dan mendistribusikan makanan untuk makhluk lain. Sekali lagi, tak pernah bukan matahari meminta tumbal atas semua itu?

Namun bumi terlampau senang atas keberkahan itu. sumber agraria memang untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kesejahteraan manusia, but its too much honey. Banyak hal yang harus dipertimbangkan dan dipantau keamanannya sampai semua ini benar-benar berakhir. And happy ending is impossible if you only say : oh i dont know, oh up to you, oh up to me, ahh.. whatever~

Bisa saja ini titiknya. Titik dimana bumi menuai ketidaksungguhannya atas apa yang dijalankan. Terlalu menyepelekan proses, padahal ingin punya hasil yang sempurna. Setidaknya berusahalah, berusaha menjaga, menjaga agar kondisi hemeostatis tetap pada titik equilibrium. Meski fluktuasi adalah mutlak, tapi kembalilah untuk menjaga agar kondisi ini menjadi stabil. Mohon..

Matahari tidak marah, hanya bosan atas pilihan bumi yang begitu-begitu saja. Bumi sudah dewasa, bukan lagi waktunya untuk menjadi labil ketika dihadapkan pada pilihan.

Matahari tidak pergi, hanya bersembunyi di suatu awan dan memantau dari kejauhan pergerakan bumi, berkembang atau menciut. Percayalah, tak ada niat jahat matahari untuk tak lagi menyinari bumi, hanya saja.. ayolah bumi, berusahalah menjadi dewasa atas pelajaran masa lalu. Matahari ingin bumi menunjukkan tanduknya, menyibakkan kasih sayang, seperti dulu. Seperti dahulu sayang.

Ketika bumi setidaknya telah menunjukkan itikad baik untuk berubah, untuk kembali bersinergis dengan matahari dengan tujuan yang sama. Matahari pasti akan mengembangkan senyumannya untukmu. Kembali memancar tanpa pamrih. Demi bumi.


24JANUARI14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar