Sekarang
aku sedang bosan, bosan melihat berita dan mendengar informasi tentang banjir.
Banjir. Kemudian banjir.
Mungkin
sama bosannya, seperti matahari. Matahari pada Bumi.
Hujan
setiap saat, global warming jadi global cooling, matahari juga sedang
pergi jalan-jalan entah kemana akhir-akhir ini. Padahal bumi kedinginan dengan
air yang selalu menyelimuti. Padahal tanaman-tanaman hampir putus asa karena
tak kunjung dapat energi untuk fotosintesis.
Matahari
itu bulatan bersinar yang baik sekali. Tak pernah meminta pamrih atas pancaran
yang setiap saat diberikan pada bumi. Atas setiap panas yang diberikan pada
pakaian-pakaian basah. Atas ribuan energi untuk tanaman berfotosintesis dan
mendistribusikan makanan untuk makhluk lain. Sekali lagi, tak pernah bukan
matahari meminta tumbal atas semua itu?
Namun
bumi terlampau senang atas keberkahan itu. sumber agraria memang untuk
dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kesejahteraan manusia, but its too much honey. Banyak hal yang harus dipertimbangkan dan
dipantau keamanannya sampai semua ini benar-benar berakhir. And happy ending is impossible if you only say : oh i dont know, oh up
to you, oh up to me, ahh.. whatever~
Bisa
saja ini titiknya. Titik dimana bumi menuai ketidaksungguhannya atas apa yang
dijalankan. Terlalu menyepelekan proses, padahal ingin punya hasil yang
sempurna. Setidaknya berusahalah, berusaha menjaga, menjaga agar kondisi
hemeostatis tetap pada titik equilibrium. Meski fluktuasi adalah mutlak, tapi
kembalilah untuk menjaga agar kondisi ini menjadi stabil. Mohon..
Matahari
tidak marah, hanya bosan atas pilihan bumi yang begitu-begitu saja. Bumi sudah
dewasa, bukan lagi waktunya untuk menjadi labil ketika dihadapkan pada pilihan.
Matahari
tidak pergi, hanya bersembunyi di suatu awan dan memantau dari kejauhan
pergerakan bumi, berkembang atau menciut. Percayalah, tak ada niat jahat
matahari untuk tak lagi menyinari bumi, hanya saja.. ayolah bumi, berusahalah
menjadi dewasa atas pelajaran masa lalu. Matahari ingin bumi menunjukkan tanduknya,
menyibakkan kasih sayang, seperti dulu. Seperti dahulu sayang.
Ketika
bumi setidaknya telah menunjukkan itikad baik untuk berubah, untuk kembali
bersinergis dengan matahari dengan tujuan yang sama. Matahari pasti akan
mengembangkan senyumannya untukmu. Kembali memancar tanpa pamrih. Demi bumi.
24JANUARI14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar