gw anak pertama dari tiga bersodara yang sisanya cewe juga,
entah kenapa ada envy gitu ngeliat orang yang punya kaka, apalagi kaka kandung cowo *ngelap iler*
bukan gamau bersyukur, cuma berimajinasi seperti spongebob pun gak dilarang kan dalam undang-undang.
kayaknya, punya kaka kandung cowo itu enak,
bisa minta jajan, minta beliin bayarin, minta uang bulanan secara rutin,
nyaman,
nyaman kalo lagi jalan pasti dianggap cowoknya, bukan kaka nya. apalagi klo kaka nya ganteng, pede sih gw jalan kmana2
seru,
kalo maen maen dan kita dijalin, ngadu aja ke nyokap. pasti dia dimarahin suruh ngalah sama adeknya
adem,
rumah pasti sering adem karena banyak temen2 cowok kaka gw yang pada maen kerumah *semoga mereka ganteng*
nikmat
nikmat kalo dia udh punya cewe, pasti gw sebagai adeknya dijadikan modus empuk buat katalisator kedekatan ceweknya sama keluarga gw. dan berhubung gw pinter maka gw akan pasang tarif diatas maksimum dengan minta peayana ekstraa #alamat bakso tiap hari
Aku seorang pengamen yang memang benar-benar sudah lelah menyumbangkann suara parau ku di tengah hiruk pikuk panasnya kota.tubuh
kecilku masih terlalu capek untuk
menanggung panasnya matahari.apalagi jika sudah ada satpol pp yang melakukan orepasi di jalanan,kontan kaki mungil tanpa
sandal ngebut untuk menghindari
polisi,ditanganku menggenggam kecrek si penghasil uang receh,tentu saja tak
boleh hilang.setelah berhasil berkelit dan bersembunyi di sudut gang
sampah,badanku rubuh gontai karna lelah,tapi masih bisa senang karna kecrek
masih digenggam.uang receh aku keluarkan dari saku celana,ada 6400 rupiah
saja?setelah seharian teriak-teriak dan dikejar satpol pp?sial..cukup apa?
Ditengah
jalan pulang menuju ‘markas’,aku melihat abang-abang yang tengah memperhatikan
nenek-nenek glamor dengan berbegai macam perhiasan di tubunya.setelah si abang
terus membuntuti sang nenek,si abang merebut dompetnya,merampas
perhiasannya,lalu lari sekuat tenaga.dan..bing!si abang lolos.aku kagum sama si
abang,modal memperhatikan saja bisa dapat uang banyak,tanpa harus teriak-teriak
nyanyi lagu ga jelas.aku benar-benar tertarik menimba ilmu darinya.aku buntuti
saja kemana perginya,ternyata ke tempat persembunyianku tadi.kalo jodoh memang
ga kemana.
Setelah
berfikir keras bagaimana mengungkapkan keinginanku untuk menimba ilmu copet
darinya,akhirnya aku memberanikan diri untuk mendekatinya yang sedang sibuk
menghitung uang,widiiih banyak benerr,aku
tergiur semakin bersemangat.
Setelah
tawar menawar sengit,ternyata si abang menerimaku jadi muridnya,namanya abang
jek.orangnya sangat bijak dan realistis,aku dinasehati menjadi copet yang
baik,diberi banyak pengetahuan tentang copet,caranya,waktunya,sasarannya,strateginya,
alasannya sampai dosanya.katannya mencopet itu untungnya lumayan,dosanya
sedikit sekali walaupun resikonya sangat besar.resikonya kalau tidak
berhati-hati dan bertindak gegabah bisa ketauan masa,dekejar-kejar ,malah
dikeroyokin sampe babak belur lalu diseret ke kantor polisi,didekap d penjara
yang kumuh juga bau.tapi dosa nya sedikit sekali dibandingkan sama para pejabat
sang wakil rakyat yang korupsi.katanya bang jek,pejabat itu orang berpendidikan yang mewakili aspirasi rakyat
untuk memajukan negara,tapi tak sembarang orang bisa jadi pejabat,harus
‘berpendidikan’,sekolah tinggi,gelar banyak,dan punya strategis bagus,bagaimana
mungkin orang seperti bang jek tidak jadi pejabat?aneh..aku mengangguk padahal
tak mengerti (aku berjanji suatu saat akan mengerti),tapi yang aku
tangkap,katanya mereka itu orang-orang berduit,apalagi yang gemar korupsi.katanya
bang jek juga,korupsi itu nyilep duit,duit nya ya duit rakyat,ga cuma 6400
rupiah,tapi bisa dalam hitungan miliar,aku mendadak pusing membayangkan duit
sebanyak itu.
pejabat korupsi
itu katanya enak,setelah makan banyak sekali uang rakyat,mereka tak pernah
dikejar-kejar masa,tak pernah dikeroyok meski sudah terbukti bersalah,dan
polisi pun menangkap mereka baik-baik dan dipenjarakan dengan semua fasilitas
elit.mungkin lebih bagus penjara koruptor daripada rumahku.tak seperti polisi
yang menangkapku ketika sedang mengamen di lampu merah,katanya pengamen
sepertiku mengganggu kenyamanan lalu lintas.aku berpikir,mungkin jika para
pejabat yang ngamen,para polisi tak akan menangkapnya,malah akan memberinya
duit recehan banyak sekali.ahh..aku mau jadi pejabat.
Tapi
aku mau melanjutkan niatanku dulu menjadi copet profesional seperti bang
jek,belajar dulu dari yang kecil-kecilan,sampai aku mahir dan tau tak tik
strategi nya.toh sama-sama saja jadi pengamen ataupun copet,sama-sama beresiko
ditangkap polisi.kalo kata orang mencopet itu dilarang dan haram makanya
ditangkap polisi,tapi walaupun mengamen itu halal, aku tetap dikejar-kejar
polisi,yaa berarti sama saja,yang membedakan hanya penghasilan,copet dapat duit
lebih banyak tanpa teriak-teriak.kata bang jek,ambil yang lebih
menguntungkan,dan karna aku anak pintar yang (ingin) berpendidikan,maka tentu
aku tau mana yang lebih menguntungkan.
Aku
ingin sekolah,aku ingin berpendidikan ,agar kelak aku bisa seperti pak pejabat
yang dapat banyak keuntungan seperti yang dibilang bang jek,yang tanpa resiko
babak belur bisa dapat uang lebih banyak ketimbang mencopet.tekadku sudah bulat,dan aku pasti
bisa menggapainya,toh aku sudah sepemikiran dengan para pejabat,jadi aku memang
pantas menduduki kursi itu,menggantikan para orang pintar berpendidikan yang
mengeruk banyak sekali duit dari rakyat.aku jadi tak sabar..
Terimakasih
bang jek,kau guru terbaikku..
Terimakasih
pak pejabat yang koruptor,kau inspirasi
hidupku..
Buat para
mahasiswa,tenar disini bukan berarti kalo mau lulus harus bikin boyband atau
girlband dulu,terus ikut audisi ajang pencarian bakat,terus mampang di
infotaiment dan akhirnya bisa tenar karna dikenal banyak orang,bukan laah..mau
banget.Tapi sebagaimana kita tau,kalo sang dirjen dikti kementrian pendidikan
dan budaya Djoko Santoso telah memutuskan langkah untuk menetapkan salah satu
langkah wajib menggaet gelar sarjana adalah dengan membuat karya ilmiah yang
harus dimuat di jurnal nasional ataupun internasional.Nah,dengan kata lain kan
minimal nama kita mampang di jurnal nasional,dan sedikit banyak orang-orang
melihat jurnal tersebut yang beratasnamakan kita yang terukir indah,itpun kalo
mereka merhatiin sih.Kan kalo dikenal banyak orang itu tenar,jadi ga salah
salah banget kan kalo saya bilang mau sarjana itu harus tenar dulu?? (please
say : yes!)
Dirjen Dikti Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, Djoko Santoso, 27 Januari 2012 telah meluncurkan Surat Edaran
(SE) Nomor: 152/E/T/2012, tentang Publikasi Karya Ilmiah. Tiga poin utama dalam
SE tersebut antara lain: (1) untuk lulus Program Sarjana harus menghasilkan
makalah yang terbit pada jurnal ilmiah; (2) untuk lulus Program Magister harus
telah menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah nasional, diutamakan
yang terakreditasi Dikti; dan (3) untuk lulus Program Doktor harus telah
menghasilkan makalah yang diterima untuk terbit pada jurnal internasional.
Kebijakan tersebut diberlakukan terhitung mulai kelulusan setelah Agustus 2012. Sebagaimana yang kita keahui juga
kalo setiap keputusan pasti punya sisi positif dan negatif nya,gitu juga dengan
keputusan berani bapak dirjen tentang syarat wajib kelulusan
ini.Positifnya,bukankan tujuan penelitian di perguruan tinggi itu adalah proses
pengembangan ilmu dan ujung-ujungnya juga untuk kesejahteraan rakyat kan?jadi
memang sewajarnya harus ada publikasi yang baik ke masyarakat agar masyarakat
tau tentang penelitianya tersebut supaya tidak terkesan ‘mubah’,karna tidak
semua lapisan masyarakat mengetahui tentang apa yang sedang diteliti oleh para
mahasiswa.Selain itu menurut sumber yang saya baca,meluncurkan karya ilmiah di
jurnal nasional juga dapat menekan angka klaim hak cipta,bisa mempercepat
perkembangan ilmu pengetahuan,mencegah plagiarism karna tidak mungkin suatu
jurnal menerbitkan suatu karya ilmiah yang sama dan juga membangun komunikasi
ilmiah antar mahasiswa ataupun antar para pemuja ilmu pengetahuan. Tapi bagaikan uang logam yang satu
sisinya adalah positif,maka satu sisi lainya yang tidak bisa dpisahkan adalah
sisi negatif.Banyak yang menilai keputusan dikti tersebut belum memiliki
kesiapan yang matang jika disandingkan dengan keadaan pendidikan Indonesia saat
ini. "Apabila kebijakan yang baik tidak didukung sumber daya yang
ada, maka kebijakan tersebut prematur. Dan hasilnya pun sia-sia," kata salah
seorang politisi FPKS, yang juga anggota Komisi X DPR RI Rohmani.Apabila
sebuah kebijakan tidak didukung kesiapan masyarakat, maka yang terjadi adalah
penyimpangan, dan hal ini yang seharusnya dipikirkan oleh Dikti. Khawatirnya akan
banyak bermunculan jurnal yang tidak memenuhi standar, dan pada saat yang sama
akan menjamur jasa penulisan jurnal.
Sebenernya ini dibuat buat menuhin salahsatu tugas sih,tapi lebih seru dibikin buat share ternyata,sekali menyelam minum air laahh..tugas selsai dan hati pun tercurahkan.
Maaf maaf aja kalo tulisannya kurang
ilmiah banget,soalnya saya lebih suka nulis apa yang saya pengen saya
obrolin,makanya kurang baku.Dan juga karna saya ngedadak ngebut-ngebut
bikinya,jadi mungkin masih rada semerawut dan berantakan sana sini,jadi..mohon
koreksinyaaaJ